Di Tolak 2 Rumah Sakit, Warga Surabaya Akhirnya Meninggal Dunia, Jenazahnya Juga Tidak Diterima Warga - Kabar Surabaya

Breaking

Monday, June 1, 2020

Di Tolak 2 Rumah Sakit, Warga Surabaya Akhirnya Meninggal Dunia, Jenazahnya Juga Tidak Diterima Warga

Di Tolak 2 Rumah Sakit, Warga Surabaya Akhirnya Meninggal Dunia, Jenazahnya Juga Tidak Diterima Warga


Kabar Surabaya - Saat ini Kota Surabaya bukan lagi menjadi zona merah penyebaran COVID-19. Berdasarkan peta sebaran Covid-19 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kota Pahlawan ini sudah digolongkan menjadi warna merah kehitaman, yang artinya merupakan kawasan darurat COVID-19.

Menjadi kota dengan penyebaran COVID-19 tertinggi di Provinsi jawa Timur, ternyata Kota Surabaya memiliki probematrikanya tersendiri. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh Kota Surabaya saat ini adalah ketersediaan ruangan rumah sakit untuk merawat pasien COVID-19. Karena selain merawat warga Kota Surabaya sendiri, rumah sakit di Kota Pahlawan juga harus menerima rujukan pasien dari seluruh Provinsi Jawa Timur.

Akibatnya bisa ditebak, beberapa rumah sakit di Kota Surabaya ini menjadi overload dan tidak bisa menampung pasien COVID-19 baru. Hal inilah yang sempat menimpa warga Kota Surabaya sendiri. Slamet Budi Santoso, warga Menur Surabaya yang berusia 55 tahun harus meninggal dunia akibat sempat di tolak oleh dua rumah sakit sebelumnya.

Kronologis meninggalnya Slamet Budi Santoso ini berawal dari demam tinggi yang dialaminya. Saat itu sang istri Sunarti masih menganggap demam pria yang bekerja di ekspedisi tersebut adalah demam biasa. Sehingga saat itu hanya diberikan obat demam yang dijual bebas di apotik. Namun setelah beberapa hari, ternyata demam yang diderita suaminya tidak juga turun.

Kemudian ada usulan dari saudara Slamet agar beliau dibawa ke rumah sakit. Namun saat itu Slamet menolak, karena takut nanti kalau divonis sebagai penderita COVID-19. Tidak lama kemudian, tiba-tiba Slamet merasakan gejala lainnya, yaitu sesak nafas.

Akhirnya, Slamet dibawa keluarganya untuk memeriksakan diri ke Dokter Praktek yang ada di dekat kediamannya. Melihat gejala yang dialami oleh Slamet, Dokter tersebut lalu menyarankan agar Salmet segera dirujuk ke RS.UNAIR (RSUA). Slamet juga dibekali surat rujukan kalau dirinya terindikasi COVID-19 dengan memiliki gejala utama, yaitu demam tinggi dan sesak nafas.

Dengan sigap, Sunarti akhirnya membawa suaminya ke RSUA agar segera mendapatkan tindakan yang cepat. Namun apa daya, saat sampai di IRD RSUA, Slamet tidak diterima di Rumah sakit rujukan COVID-19 tersebut. Petugas IRD mengatakan saat itu RSUA sedang overload dan tidak bisa menerima pasien COVID-19 baru. Petugas RSUA menyarankan agar Slamet segera di bawa ke RS.Haji Surabaya.

Meskipun saat itu kondisi Slamet telah melemah dan nafasnya sudah tersengal-sengal, Sunarti tetap menuruti petugas RSUA untuk terus berangkat ke RS.Haji. Saat itu harapan Sunarti hanya satu, yaitu agar Slamet segera mendapatkan pertolongan secepatnya,

Namun, Sunarti ternyata harus merasakan kekecewaan untuk yang kedua kalinya. Petugas RS. Haji juga mengatakan kalau tidak bisa menerima Slamet. Kondisinya juga sama, saat itu RS.Haji sedang penuh dan tidak ada tempat lagi.

Oleh petugas RS.Haji, Sunarti disarankan untuk membawa Slamet ke RS.Islam Jemursari atau RS. Dr.Soetomo. Dari kedua opsi tersebut, Sunarti lalu memilih ke RS.Dr.Soetomo karena lebih dekat dari RS.Haji, mengingat kondisi Slamet yang sudah sangat meng-khawatirkan.

Di RS milik Pemprov ini, Slamet langsung ditangani dengan cepat, sehingga Sunarti merasa lega. Namun selang satu hari kemudian Slamet Budi Santoso dinyatakan meninggal dunia. Namun, hasil lab yang menentukan apakah Slamet mendetita Corona atau tidak, saat itu masih belum keluar.

Kesedihan keluarga Sunarti masih bertambah saat tetangganya menolak untuk memakamkan Slamet di pemakan warga. Bukan hanya itu, warga juga menolak jenasah Sunarto dibawa ke rumah duka. Warga menganggap Slamet sudah menderita positif COVID-19.

Untuk menghindari konflik warga, akhirnya pihak keluarga menuruti saran dari pihak rumah sakit untuk memakamkan Slamet di makam milik Pemkot Surabaya Keputih. Tentunya dengan protokol COVID-19. Pemakaman Slamet akhirnya dilakukan pada pukul 23.00wib. Di tengah kegelapan malam dan disertai dengan rintik hujan. (Yanuar Yudha)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad