4 Remaja Ditangkap! Kasus Pengeroyokan yang Tewaskan Lulusan SMA Surabaya - Kabar Surabaya

Terbaru

Sunday, June 7, 2026

4 Remaja Ditangkap! Kasus Pengeroyokan yang Tewaskan Lulusan SMA Surabaya


Kabar Surabaya - Nasib tragis menimpa Thomas Julianus Kristianto (19), seorang remaja yang baru saja menyelesaikan pendidikan tingkat SMA. Thomas meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama tiga hari di RSUD Dr. Soetomo Surabaya akibat luka berat yang diduga dialaminya setelah menjadi korban pengeroyokan oleh empat remaja yang disebut-sebut merupakan adik kelasnya di SMAN 11 Surabaya.


Kepergian Thomas meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Korban diketahui merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak usia dini, Thomas telah menghadapi berbagai cobaan hidup. Ia kehilangan ibunya ketika masih kecil, sementara sang ayah meninggalkannya. Sejak saat itu, Thomas diasuh dan dibesarkan oleh kakek, nenek, serta tantenya di kawasan Manukan, Surabaya.


Peristiwa yang merenggut nyawa Thomas bermula ketika ia diduga menjadi korban pengeroyokan pada awal Juni 2026. Akibat kejadian tersebut, Thomas mengalami luka serius di bagian kepala hingga mengalami gegar otak berat. Kondisinya terus memburuk dan sempat koma selama tiga hari sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.


Kakek korban, Margono (88), yang selama ini merawat dan membesarkan Thomas, mengaku sangat terpukul atas kehilangan cucu yang selama ini menjadi harapan keluarga. Dengan mata berkaca-kaca, Margono mengenang momen terakhir saat bertemu dengan Thomas sebelum kejadian tragis itu terjadi.

"Malam itu dia hanya pamit mau keluar sebentar bersama temannya. Tidak ada firasat apa-apa," ujar Margono saat ditemui di rumah duka pada Kamis (4/6/2026).


Menurut Margono, setelah berpamitan, Thomas tak kunjung pulang ke rumah. Keluarga mulai khawatir karena biasanya Thomas selalu memberi kabar jika terlambat pulang.

"Keluar itu kok tidak pulang-pulang. Tahu-tahu ada temannya datang ke rumah memberi tahu kalau Thomas ada di dokter Danu," tuturnya.


Saat ditemukan, kondisi Thomas sudah sangat memprihatinkan. Korban mengalami luka serius di bagian kepala dan tidak sadarkan diri. Karena keterbatasan fasilitas medis di klinik tempat pertama kali mendapatkan penanganan, Thomas kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

"Sudah tidak sadar. Darah keluar dari kepalanya," kata Margono dengan suara bergetar menahan kesedihan.


Di rumah sakit, tim medis langsung melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa korban. Namun, kondisi Thomas terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WIB setelah tiga hari menjalani perawatan intensif.


Sementara itu, kakak kandung korban, Hana Novia Kristiani (32), meyakini bahwa adiknya menjadi korban pengeroyokan. Menurutnya, jumlah pelaku yang diduga lebih dari dua orang menunjukkan bahwa tindakan kekerasan tersebut bukan sekadar perkelahian biasa.

"Kalau hanya satu atau dua orang, mungkin saya tidak menyebutnya pengeroyokan. Tapi kalau lebih dari dua orang, bagi saya itu sudah jelas pengeroyokan dan ada kemungkinan dilakukan secara berencana," ujar Hana saat ditemui di rumah duka di kawasan Jalan Manukan Yoso II, Manukan Kulon, Tandes, Surabaya.


Hana mengaku hingga kini keluarga belum mengetahui secara pasti motif yang melatarbelakangi aksi kekerasan tersebut. Namun, ia memastikan bahwa adiknya tidak memiliki persoalan utang-piutang ataupun masalah besar lainnya yang dapat memicu konflik serius.


Menurut Hana, dugaan persoalan bermula pada pertengahan Mei 2026 ketika Thomas terlibat perselisihan dengan salah seorang temannya yang diduga menjadi salah satu pelaku pengeroyokan. Perselisihan tersebut berkaitan dengan sandal milik teman korban yang sempat digunakan oleh Thomas.


Meski demikian, Hana menegaskan bahwa persoalan itu sebenarnya telah diselesaikan secara baik-baik. Bahkan keluarga telah menunjukkan itikad baik dengan mengganti sandal tersebut dengan yang baru.

"Saat itu saya sudah mengganti dengan sandal baru. Tapi mungkin dari pihak yang bersangkutan merasa harga sandal penggantinya tidak sesuai dengan sandal sebelumnya," jelas Hana.


Karena itulah, pihak keluarga merasa alasan tersebut terlalu sepele apabila benar menjadi pemicu aksi kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.


Merasa tidak terima atas kejadian yang menimpa Thomas, keluarga kemudian melaporkan kasus tersebut ke Polrestabes Surabaya agar diproses sesuai hukum yang berlaku.


Terpisah, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Harwiyato membenarkan adanya kasus pengeroyokan yang menyebabkan korban mengalami luka berat hingga meninggal dunia.

"Empat pelaku sudah berhasil diamankan dan saat ini sedang menjalani pemeriksaan oleh Unit Resmob Polrestabes Surabaya," ujar AKBP Edy Harwiyato.


Penyidik saat ini masih mendalami peran masing-masing pelaku, kronologi lengkap kejadian, serta motif yang melatarbelakangi aksi pengeroyokan tersebut.


Setelah dilakukan autopsi di RS Bhayangkara Surabaya, jenazah Thomas Julianus Kristianto diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan. Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman yang berlangsung di Tempat Pemakaman Umum Babat Jerawat, Surabaya, sekitar pukul 09.00 WIB.


Kepergian Thomas meninggalkan luka mendalam bagi keluarga yang selama ini berjuang membesarkannya di tengah berbagai keterbatasan. Harapan untuk melihat Thomas melanjutkan pendidikan dan meraih masa depan yang lebih baik kini harus pupus. Keluarga berharap proses hukum terhadap para pelaku dapat berjalan transparan dan memberikan keadilan bagi almarhum.

#gambar bukanlah foto sebenarnya, hanya merupakan ilustrasi

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad