Ultimatum Eri Cahyadi: Berani Turun ke Lapangan atau Siap Dicopot!
Kabar Surabaya - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa camat dan lurah harus menjadi ujung tombak pelayanan publik dengan berani turun langsung ke lapangan, mengambil keputusan demi kepentingan masyarakat, serta menjaga ketertiban lingkungan. Pesan tersebut disampaikan saat memimpin Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Jabatan 32 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya, Kamis (9/7/2026).
Dalam arahannya, Eri mengingatkan bahwa setiap pejabat wilayah memikul tanggung jawab penuh terhadap segala persoalan yang terjadi di daerahnya. Ia menegaskan tidak akan lagi menerima alasan "tidak tahu" ketika warga menghadapi masalah.
"Kalau sudah diberi jabatan dan kewenangan, maka semua yang terjadi di wilayah menjadi tanggung jawab. Tidak ada lagi alasan 'saya tidak tahu'. Kalau punya mental seperti itu, lebih baik mundur sebelum saya copot," tegas Eri.
Salah satu perhatian utama Eri adalah penataan trotoar dan pengelolaan parkir. Menurutnya, trotoar merupakan hak pejalan kaki yang harus dijaga, bukan dijadikan lokasi parkir kendaraan hingga merusak fasilitas umum.
Eri juga memerintahkan agar lokasi parkir yang tidak memiliki izin atau menarik tarif di luar ketentuan segera ditutup tanpa perlu menunggu peringatan berulang.
"Kalau tidak berizin, tidak usah diberi peringatan satu atau dua kali. Langsung tutup. Itu yang harus dilakukan ASN," ujarnya.
Selain penertiban parkir, para lurah juga didorong berinovasi dengan menggandeng pemilik usaha membuat komitmen bersama untuk menjaga trotoar di depan tempat usaha mereka agar terbebas dari parkir liar.
Dalam kesempatan itu, Eri turut menyoroti dugaan praktik pungutan liar di Sentra Wisata Kuliner (SWK) dan pasar aset milik Pemkot Surabaya. Ia menyayangkan masih adanya pedagang kecil yang harus membayar sejumlah uang agar bisa mendapatkan tempat berjualan.
Menurutnya, lurah tidak boleh beralasan bahwa pengelolaan telah diserahkan kepada paguyuban atau koperasi. Meski dikelola pihak lain, pengawasan aset pemerintah dan perlindungan terhadap masyarakat tetap menjadi tanggung jawab Pemkot.
"Orang kecil mau mencari nafkah saja masih dimintai uang. Lurahnya diam dan mengaku tidak tahu. Pemimpin seperti apa itu? Seharusnya yang paling tahu kondisi di lapangan adalah yang setiap hari bertemu warga," kata Eri.
Di sisi lain, ia memberikan apresiasi kepada salah satu lurah yang berani menjalankan instruksinya di lapangan meski sempat mendapat tekanan dan ancaman. Eri memastikan seluruh jajaran yang bekerja demi kepentingan masyarakat akan mendapat perlindungan dari pemerintah.
"Jangan takut. Kita punya Satgas Preman dan aparat penegak hukum. Kalau bekerja benar untuk masyarakat, saya pastikan akan kita lindungi. Tapi kalau justru ikut bermain, saya tidak akan membela," tegasnya.
Menutup arahannya, Eri mengingatkan bahwa hasil psikotes maupun nilai administrasi yang baik tidak akan berarti jika tidak dibarengi keberanian, komitmen, dan kerja nyata di lapangan. Ia menegaskan evaluasi terhadap pejabat akan terus dilakukan, termasuk melalui mutasi jabatan.
"Saya tidak akan berhenti melakukan mutasi. Jabatan bisa diganti kapan saja. Ingat, kalian bekerja bukan untuk wali kota, tetapi untuk mewujudkan harapan masyarakat Surabaya. Mulai hari ini, jadilah teladan bagi warga," pungkasnya.


No comments:
Post a Comment