Tragedi Membara di Dunia Anak Saat Bocah 10 Tahun Menjerit di Tengah Api - Kabar Surabaya

Thursday, May 15, 2025

demo-image

Tragedi Membara di Dunia Anak Saat Bocah 10 Tahun Menjerit di Tengah Api

 
pexels-moein-moradi-209759-672636
Tragedi Membara di Dunia Anak Saat  Bocah 10 Tahun Menjerit di Tengah Api


Kabar Surabaya – Di balik riuh tawa anak-anak yang bermain di sudut kota kecil Situbondo, tersimpan duka yang membakar hati siapa pun yang mendengarnya. AQ, seorang bocah lelaki berusia 10 tahun, kini terbaring tak berdaya di ruang ICU RSUD Abdoer Rahem. Tubuh kecilnya dililit perban, napasnya berat, dan luka bakar menghitamkan hampir seluruh kulitnya. Sejak Senin (12/5/2025), ia berjuang melawan rasa sakit yang tak tertanggungkan — korban dari kebrutalan yang tak pernah dibayangkan datang dari tangan teman sebayanya.



Menurut keterangan pihak kepolisian, AQ bukanlah korban kecelakaan biasa. Ia adalah korban dari tindakan keji yang dilakukan oleh empat anak lain — teman sepermainannya sendiri. Entah dalam canda yang kelewat batas atau niat iseng yang berubah jadi petaka, tubuh AQ disiram cairan spiritus, lalu disulut api. Sekejap, api menjilat tubuh mungil itu. Jeritannya menggema, mengiris udara sore itu, namun tak mampu memutar waktu.


Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan, membenarkan kejadian memilukan ini. "Korban mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh dan saat ini dirawat intensif," ungkapnya pada Selasa (13/5/2025). Empat pelaku yang masih berusia 10 hingga 12 tahun telah dipanggil bersama orangtua mereka. Polisi kini tengah melakukan penyelidikan dan rekonstruksi peristiwa tragis tersebut.


Di tengah keheningan rumah sakit, Senin malam, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, datang menjenguk. Namun ia hanya bisa memandang dari luar kaca ICU. “Anaknya belum bisa dijenguk. Saya ingin tahu, ini betul-betul bercanda atau ada motif lain. Saya juga sudah minta laporan dari kepolisian,” ujarnya, suaranya berat menahan emosi.


/div>

Peristiwa ini tak hanya meninggalkan luka di tubuh AQ, tapi juga luka sosial yang mengusik kesadaran bersama: bagaimana kekerasan bisa tumbuh di antara anak-anak? Bagaimana bisa, permainan berubah menjadi tragedi?


Bupati pun mengimbau seluruh orangtua agar lebih memperketat pengawasan terhadap anak-anak. Sebab dunia anak bukan lagi sekadar taman bermain yang aman — bisa jadi, ia menyimpan bara yang siap membakar bila lalai dalam penjagaan.


Kini, Situbondo menahan napas. Satu anak berjuang antara hidup dan mati. Empat anak lainnya menatap masa depan yang tercoreng oleh satu tindakan gegabah. Dan seluruh negeri, harus merenung: sudah cukupkah cinta dan perhatian kita untuk menjaga anak-anak dari bahaya yang tak selalu datang dari luar?


No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Contact Form

Name

Email *

Message *

Contact Form

Name

Email *

Message *