Walikota Risma : " Paling Aku di Bunuh., Terus Apa Lagi..?" - Kabar Surabaya

Breaking

Wednesday, November 11, 2020

Walikota Risma : " Paling Aku di Bunuh., Terus Apa Lagi..?"


Walikota Risma : " Paling Aku di Bunuh., Terus Apa Lagi..?"


Kabar Surabaya - Hari Pahlawan 10 November selalu identik dengan karnaval, parade senjata ataupun yang pasti adalah berziarah ke Taman Makam Pahlawan dan Upacara Bendera. Namun pada peringatan Hari Pahlawan kali ini, para Buruh yang terkena dampak dari Undang-Undang Omnimbus Law Cipta Kerja juga melakukan aksi. Aksi ini berupa demonstrasi yang dilakukan didepan Gedung Negara Grahadi Kota Surabaya. 


Berbeda dengan aksi demonstrasi yang pernah dilakukan sebelumnya, pada kali ini, aksi demo ini terlihat seperti acara Festival Rakyat. Hal ini terlihat dengan adanya aksi teatrikal, pembacaan puisi, pameran foto, kegiatan sablon, perpustakaan baca mini, hingga tempat penjualan hasil bumi yang dibagikan secara gratis. Menurut juru bicara aksi demo ini, Muhammad Izzudin, aksi kali ini memang digelar secara berbeda. Hal ini semata-mata untuk menjaga semangat pergerakan yang kemungkinan masih akan berjalan dengan waktu yang lama.



Selain aksi demo yang dilakukan secara berbeda dan unik. Aksi demo yang digelar bersamaan dengan Hari Pahlawan 10 November 2020 ini rupanya juga diwarnai oleh kejadian unik yang lain. Kejadian ini berupa aksi dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan jajarannya yang tiba-tiba menerobos ratusan massa yang sedang konsentrasi mendengarkan orasi dan melihat beragam pertunjukan yang di gelar tepat didepan pagar Gedung Negara Grahadi Surabaya.

 

Sebelum melakukan aksi terobos para demonstrans, Wali Kota Risma dan jajarannya sempat memantau jalannya aksi demo dari kejauhan sejak pukul 16.00wib. Sekitar pukul 17.00wib, tampak salah satu staff membagikan karung berwarna putih dengan logo Pemkot Surabaya. Karung tersebut seperti yang digunakan oleh petugas kebersihan saat membersihkan jalanan di Kota Surabaya.

 

Setelah Wali Kota Risma dan seluruh jajarannya menerima karung berwarna putih, tanpa dikomando lagi, orang nomor satu di Kota Surabaya tersebut langsung menuju ke arah kerumunan demonstrans. Tanpa rasa canggung beliau langsung memungut sampah-sampah yang ada di tengah-tengah massa. Kantong kresek plastik, Bekas pembungkus makanan, gelas air meneral dan botol ar mineral langsung diraihnya dengan care membungkukkan badan. Hal ini juga diikuti oleh selurauh staff yang menyertainya, meskipun kebanyakan dari mereka lebih fokus untuk mengawal Wali Kota Risma.

 

Tindakan Wali Kota Risma ini rupanya memancing perhatian dari para peserta aksi demo. Mereka langsung berusaha untuk mengambil gambar pemimpin Kota Surabaya yang nekad menerobos kerumunan massa demo hanya untuk membersihkan sampah ini. 

 

Beberapa  peserta demo yang melihat Wali Kota Risma berada ditengah-tengah mereka langsung mengeluarkan komentarnya :

"Ini Ibu sampahnya. sudah, Ibu jangan melakukan bersih-bersih sampah di sekitar sini, biar kami sebagai rakyat saja yang membersihkan sampahnya. Saya dulu ikut mendukung dan mencoblos Bu Risma, namun ibu ternyata tidak membela rakyat. Saya terkena PHK secara semena-mena, terus siapa yang akan membela saya bu.... Sekarang saya sudah jadi pengangguran dan tidak bekerja lagi. Tolong Ibu, bagaimana ini solusinya,".

"Nasib warga Kota Surabaya terancam dengan adanya Undang-UndangOmnibus Law, mana suaramu," 

 

Mendapatkan pertanyaan dari para peserta demo. Walikota Risma langsung menjawab bahwa dirinya sudah berupaya untuk menyuarakan aspirasi dari warga Kota Surabaya. Dirinya mengaku telah mengirimkan surat langsung kepada Presiden Jokowi.

 


"Aku berani disumpah dengan Al-Qur'an kalau aku sudah berjuang. Aku sudah berkirim surat ke Pak Presiden. Tapi memang saya belum tahu bagaimana keputusan dan kebijakannya beliau. Kita akan tetap sama-sama berjuang. Saya tidak akan tinggal diam bila melihat warga Surabaya seperti ini," terang Wali Kota Risma.

 

Setelah sedikit berdialog dengan para peserta demo, Wali Kota Risma kembali memantau jalannya aksi demo dari kejauhan. Ketika ditanyakan menganai aksinya tersebut, wanita kelahiran Kediri tersebut mengaku kasihan terhadap tenaga kebersihan yang bertugas. Hal ini mengingat peristiwa aksi demo sebelumnya yang meninggalkan sampah. Sampah tersebut harus membuat tenaga kebersihan bekerja hingga larut malam.

 

“Kemarin, waktu demo sebelumnya sampahnya banyak sekali. Saat aku pulang jam 22.00, mereka (tukang sampah) masih terlihat bersih-bersih. Mereka itu memang tukang sapu, namun mereka juga manusia, punya keluarga juga. Kan kasihan,”.


Saat ditanyakan mengapa Wali Kota Risma sampai nekat menerobos kerumunan...Apakah tidak terlalu beresiko...?. Mendapatkan pertanyaan tersebut, Wali Kota Risma hanya menanggapi dengan santai.

 

"Resikonya apa,... paling pol aku di pateni (dibunuh), tapi saya yakin tidak akan sampai terjadi seperti itu..," jalasnya. (yyan).


No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad