Surabaya Masih Menjadi Favorit Pembuangan Orang Gila Dari Kota Lain - Kabar Surabaya

Breaking

Tuesday, December 10, 2019

Surabaya Masih Menjadi Favorit Pembuangan Orang Gila Dari Kota Lain

Surabaya Masih Menjadi Favorit Pembuangan Orang Gila Dari Kota Lain 

Kabar Surabaya - Sebagaimana diketahui bersama, bahwasannya Kota Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta. Hal ini ternyata menjadi magnet tersendiri bagi kota lain untuk berkunjung ke Kota Pahlawan ini. Apalagi infrastruktur Kota Surabaya sendiri yang cukup rapi serta banyak lokasi - lokasi wisata kota yang apik. Maka tidak heran bila Kota yang terletak di tepi laut ini menjadi kota favorit bagi kebanyakan orang.


Namun sayangnya, selain turis asing dan domestik, ternyata Kota Surabaya juga menjadi kota jujugan favorit bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Entah apa sebabnya Kota Pahlawan ini menjadi lokasi favorit untuk membuang orang penderita gangguan jiwa. Hampir setiap hari bisa ditemukan empat hingga lima orang penderita gangguan jiwa di kota yang di pimpin oleh Tri Rismaharini ini.

Keberadaan orang gila ini akan lebih meningkat jumlahnya saat ditemukan ketika memasuki bulan puasa hingga saat Lebaran. Hal inilah yang akhirnya Pemerintah Kota Surabaya menengarai adanya "kesengajaan" dari daerah lain untuk membuang orang gila ke Kota Surabaya. Fenomena keberadaan orang gila yang masih cukup banyak inilah yang akhirnya membuat Pemkot Surabaya melakukan penjagaan dan operasi Yustisi lebih ketat lagi. Banyak juga orang gila ini yang ternyata tidak bisa berbahasa jawa, hal ini mengindikasikan bahwa mereka memang berasal dari daerah lain.


Menanggapi adanya orang gila yang berhasil di"amankan" oleh jajarannya, Walikota Risma menginstruksikan untuk tetap merawat mereka dengan baik. "Biarpun mereka ini gila, namun mereka ini juga merupakan ciptaan Tuhan. Maka, sesama makhluk Tuhan, kita berkewajiban untuk merawatnya hingga mereka benar-benar sembuh, baru kemudian dikembalikan ke tempat asalnya," Jelas Walikota Risma.

Sejatinya, Pemerintah Kota Surabaya bisa saja langsung mengembalikan para penderita gangguan jiwa ini ke tempat asalnya. "Kita sebenarnya tau, mereka asalnya dari mana, siapa yang membuangnya dan bisa saja langsung dikembalikan, tapi aku ora tego Rek," jelas Risma. Akhirnya para penderita gangguan jiwa ini ditampung di panti-panti yang tersebar di seluruh Kota Surabaya. Nantinya mereka akan di rawat hingga sembuh, setelah sembuh lalu dikembalikan ke keluarganya masing-masing.


Pemerintah Kota Surabaya sendiri telah beberapa kali memulangkan penderita gangguan jiwa yang telah sembuh ke kota asalnya. Mereka diantar menggunakan bis, pesawat hingga kapal laut. Namun banyak pula kasus yang mereka akhirnya terpaksa kembali lagi ke Kota Surabaya. Karena banyak keluarga mereka yang tidak mau menerima pengidap gangguan jiwa ini kembali ke rumah. Hal inilah yang mengakibatkan, mau, tidak mau Pemerintah Kota Surabaya harus menerima mereka kembali.

Salah satu kasus yang pernah terjadi, ada seorang wanita yang dirawat di Kota Surabaya karena menderita gangguan jiwa. Penderita ini dibuang oleh keluarganya dan di temukan oleh jajaran Pemkot Surabaya. Setelah dirawat, penderita ini bahkan diberikan ketrampilan dagang, sehingga sudah bisa berjualan sendiri. Namun ketika dikembalikan ke tempat asalnya, gangguan jiwanya kambuh. Akhirnya dibawa kembali ke Surabaya. Setelah dirawat lagi dan bisa sembuh, akhirnya menetap di Kota Surabaya.


Ada juga kasus penderita gangguan jiwa yang telah sembuh. Namun ketika dikembalikan ke keluarganya, gangguan jiwanya kambuh lagi. Pasien ini kemudian meminta kembali lagi ke Kota Surabaya. Setelah dirawat, dan sembuh akhirnya pasien ini sudah bekerja di Kota Surabaya dan tidak pernah sakit lagi sampai sekarang.

Meskipun Pemerintah Kota Surabaya sangat perhatian terhadap penderita gangguan jiwa dan orang terlantar, namun Pemkota Surabaya berharap agar tidak ada lagi pembuangan penderita gangguan jiwa ke Kota Pahlawan ini. Pemkot Surabaya semuanya bisa diselesaikan di daerah asal masing-masing, agar tidak menambah beban sosial di Kota Surabaya. (Yanuar Yudha)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad