Cakupan Imunisasi Di Indonesia Masih Rendah - Kabar Surabaya

Breaking

Monday, August 5, 2019

Cakupan Imunisasi Di Indonesia Masih Rendah

Cakupan Imunisasi Di Indonesia Masih Rendah

Secara garis besar, pencapaian cakupan imunisasi bayi dan anak di Indonesia tidak menggembirakan. Hal ini terkuak dalam  acara Media Conference yang bertajuk "Cegahlah Penyakit Dengan Imunisasi". Acara ini di selenggarakan oleh kelompok Studi Imunisasi Surabaya pada tanggal 1 Agustus 2019 di Hotel Harris Gubeng Surabaya.



Acara yang berlangsung santai ini menghadirkan 4 orang narasumber, yaitu : Prof. Dr. dr. Ismoedijanto, DTM&H., SpA(K), Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Jawa Timur, Dr. dr. Gatot Soegiarto, SpPD-KAI, FINASIM, Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia, Bapak Gito Hartono, SKM, Mkes, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, dan Dr. dr. Dominicus Husada, SpA(K), Ikatan Dokter Anak Indonesia dan Kelompok Studi Imunisasi Surabaya

Acara ini di buka dengan data yang sangat miris, yaitu selalu menurunnya angka balita yang mendapatkan imunisasi. Padahal, sejatinya angka  cakupan  yang  tinggi  ( 90%   atau   lebih ) akan melindungi individu yang bersangkutan serta kelompok  masyarakat lain yang tidak diimunisasi. Indonesia berusaha terus menerus meningkatkan angka cakupan sekalipun banyak rintangan menghadang.  



Kerja sama  semua  pihak,   termasuk  dengan masyarakat   yang   merupakan   konsumen utama imunisasi, adalah keharusan. Indonesia masih akan melewati jalan yang cukup panjang untuk dapat mengejar prestasi imunisasi negara maju. 

Rencana strategis pemerintah bidang kesehatan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 hingga 2024 berfokus pada upaya preventif untuk mengendalikan kasus penyakit yang banyak terjadi di Indonesia.


Salah satu upaya preventif untuk mengendalikan kasus penyakit adalah melalui imunisasi. Imunisasi  merupakan salah  satu bentuk pencegahan penyakit yang efektif, mudah, serta murah untuk menghindari terjangkitnya penyakit infeksi, mulai dari anak, orang dewasa hingga orangtua.

Salah satu jenis penyakit yangbaru-baru ini menyerang di Provinsi jawa Timur adalah Hepatitis A. Berikut sekilas mengenai apa itu penyakit Hepatitis A :



Hepatitis A banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita, baik diperkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kualitas yang mendalam dari Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan seperti, higiene perorangan dan higiene penjamah makanan yang rendah, lingkungan yang kumuh, kebersihan tempat‐tempat umum (rumah makan, restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat1.

Infeksi  hepatitis  A  disebabkan  oleh virus  hepatitis A, dan merupakan penyakit    endemis di beberapa negara berkembang. Penularannya  melalui sumber penularan umumnya terjadi  karena  pencemaran air minum,  makanan   yang tidak  dimasak, makanan  yang  tercemar,  sanitasi    yang  buruk,  dan  rendah.


Beberapa kejadian luar biasa (KLB) hepatitis A dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Indonesia, misalnya di Bogor (Jawa Barat) pada tahun 1998; Jember dan Bondowoso (Jawa timur) pada tahun 2006; Tangerang pada tahun 2007, Yogyakarta pada tahun 2008 dan Ngawi (Jawa timur) pada tahun 2009. Pada September 2018 KLB Hepatitis A di DIY dilaporkan terjadi pada 50 orang dan Januari  2019    pada 30 orang.

Hepatitis A juga telah menyerang  masyarakat Pacitan, Jawa Timur, bahkan Bupati Indartato telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 25 Juni 2019. Kementerian  Kesehatan  RI  menduga  KLB  hepatitis A   itu disebabkan  karena  air  bersih  yang  tercemar. KLB  Hepatitis  A  di  Kabupaten   Pacitan  tersebar  di  9  Puskesmas,   yakni  Sudimoro,  Sukorejo,    Ngadirojo, Wonokarto,  Tulakan,  Bubakan, Tegalombo,  Arjosari, dan  Ketrowonojoyo. Total  kasus  957  orang    dan tidak  ada   kematian.  Data  Dinas  Kesehatan (Dinkes) Jawa Timur  per  Senin 1  Juli   menyebutkan  warga yang terinfeksi virus ini mencapai 975 orang.
Bagaimanakan cara melakukan pencegahan terhadap Hepatitis A ?


Pencegahan lebih baik daripada pengobatan dan dengan pengobatan yang baik berarti melaksanakan pencegahan yang baik pula. Kedua ungkapan ini berlaku juga untuk hepatitis A, dimana kegiatan pencegahan lebih efisien dan tanpa risiko yang membahayakan.

Pencegahannya melalui kebersihan lingkungan, terutama terhadap makanan dan minuman , melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan dengan vaksinasi. Vaksinasi penting dilakukan untuk memberikan perlindungan diri dan mencegah penyebaran.
Vaksin hepatitis A dua dosis dengan jarak 6‐12 bulan dapat memberikan perlindungan jangka panjang.


Dari kejadian KLB Hepatitis A ini, di harapkan masyarakat Indonesia bisa sadar, bahwa Imunisasi adalah hal penting dan mutlak untuk di lakukan. 

Imunisasi bayi dan Anak Di Indonesia.

Imunisasi adalah upaya pengebalan tubuh yang dapat diperoleh secara aktif maupun pasif. Imunisasi aktif        dilakukan   dengan  memberi  vaksin  pada  individu.  Upaya  ini  telah  terbukti  efektif  dan  aman      di seluruh dunia.  Sebenarnya ada  2  upaya  kesehatan  masyarakat  yang  paling  berhasil,    efisien,   dan efektif  yaitu  imunisasi dan  penyediaan air bersih.


Di  Indonesia  bayi  dan  balita  seyogianya  menerima  5 vaksin  yang  ditujukan  untuk   mencegah  9 penyakit menular berbahaya. Vaksin ini disediakan di sarana kesehatan pemerintah dan swasta. Pelayanan   di  sarana  pemerintah    dapat diperoleh   cuma‐Cuma  dan      tersebar  di    seluruh  wilayah Indonesia.


Hak Anak Untuk memperoleh Perlindungan

Imunisasi adalah salah satu hak anak. Hak anak tidak lebih rendah tingkatnya dibandingkan hak orang dewasa. Mencabut hak ini dengan tidak memberikan imunisasi sebaiknya dihindari.

Penyakit yang Dapat Di Cegah Dengan Imunisasi


Kesembilan penyakit yang diprioritaskan di Indonesia adalah Hepatitis B, Tuberkulosis, Polio, Difteri, Tetanus, Pertusis, Hemofilus influenzae tipe b, Campak, dan Rubela. Semua pihak terus berupaya menambah jumlah penyakit yang bisa diimunisasi namun berbagai kendala dan keterbatasan harus diperhitungkan. Di seluruh dunia hanya ada 40 penyakit yang memiliki vaksin sebagai upaya pencegahan. Ini terjadi karena membuat vaksin adalah pekerjaan besar dan sulit. Vaksin yang lolos pasti telah melewati berbagai tahap yang tidak ringan.


Lima Vaksin Yang Wajib Di Berikan Kepada Bayi

Lima vaksin untuk kesembilan penyakit yang diberikan saat bayi di Indonesia adalah BCG, Polio tetes dan injeksi, Pentabio (yang berisi DPT‐Hepatitis B‐HiB), dan MR (campak rubela). Umur   bayi  saat vaksin  diberikan  bervariasi  sesuai jenis  vaksin. Umur minimal ini perlu dipatuhi, demikian pula dengan jarak antar vaksin.

Imunisasi Yang Dapat di peroleh Lewat Jalur Swasta (Non pemerintah)


Di  Indonesia  masih  ada  beberapa  vaksin  lain  yang     tidak  diberikan  secara  masal  oleh  pemerintah. Vaksin tersebut dapat diperoleh di jalur swasta. Beberapa penyakit yang mempunyai vaksin namun tidak disediakan di sarana pemerintah antara lain adalah: Infeksi Rotavirus, infeksi karena Streptococcus     pneumoniae,  Influenza,  Hepatitis A,  Cacar  air,  Demam tifoid,   Mumps/Gondong, Japanese encephalitis, kanker leher rahim, dan Demam Berdarah. Semua vaksin telah lolos saringan super ketat, melewati tahap yang begitu panjang, dan dibuktikan menyelamatkan banyak nyawa di seluruh dunia. Sekalipun  variasi  biaya  relative  tidak  sangat ringan, dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan ketika seseorang sakit, tetap saja  biaya  imunisasi  jauh lebih rendah.


BEBERAPA KEJADIAN LUAR BIASA DAN TINGGINYA PENYAKIT
  • Jawa Timur  menghadapi   KLB   difteri  sejak  2011  dan  hingga  hari  ini  belum  dapat  dituntaskan.
  • Indonesia dalah peringkat dua dunia dalam hal jumlah penderita difteri
  • Setiap  tahun  masih  ditemukan  kasus  tetanus  pada  bayi  baru  lahir
  • Pertusis mengalami kenaikan bermakna sejak beberapa tahun terakhir di seluruh dunia, termasuk di Jawa Timur.
  • Indonesia  adalah  peringkat  dua  dunia  dalam  hal  jumlah  penderita TBC
  • Angka  penderita hepatitis  B di Indonesia sangat tinggi
  • Sekalipun  telah  dinyatakan  bebas  polio  sejak  2014  ada  beberapa  ancaman  yang  perlu senantiasa diwaspadai. Ancaman  terkini adalah KLB polio di negara tetangga, Papua Nugini, yang dikhawatirkan akan merembet  ke Papua dan Papua Barat
  • Cakupan    imunisasi      MR       Luar    Jawa  di  tahun        2018         sangat  rendah    dan    KLB  campak  masih  banyak ditemukan, terutama di luar Jawa itu. (Yanuar Yudha)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad