Dari Buku hingga Bola Udang, TBM Avicenna Berkah Gerakkan Ekonomi Kampung Nelayan Surabaya
Kabar Surabaya - Apa yang selama ini terbayang ketika mendengar istilah Taman Bacaan Masyarakat (TBM)?
Mungkin sebagian orang masih membayangkan sebuah ruangan sederhana dengan rak-rak berisi buku. Bahkan, ada yang menganggap TBM hanya menjadi tempat anak-anak membaca buku atau mengerjakan tugas sekolah.
Kalau masih memiliki bayangan seperti itu, SALAH BESAR !!!
TBM masa kini telah berkembang jauh. Tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk membaca buku, TBM juga dapat menjadi ruang belajar, tempat berkarya, pusat kegiatan masyarakat, hingga penggerak ekonomi kreatif yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan di sekitarnya.
Gambaran tersebut bisa dilihat langsung di TBM Avicenna Berkah, Jalan Sukolilo Gang IV Nomor 58, Kelurahan Sukolilo Baru, Kecamatan Bulak, Surabaya.
Lokasinya tidak jauh dari kawasan Kenjeran dan Jembatan Suroboyo. Untuk mencapainya, pengunjung harus masuk ke sebuah perkampungan nelayan yang cukup padat.
Meski berada di kawasan pesisir dengan jalan kampung yang relatif sempit, suasana lingkungan di sana terlihat bersih dan tertata.
Di gerbang masuk kampung, terdapat tulisan “Kampung Bola Udang” yang menjadi tagline Kampung Sukolilo Gang IV.
Nama tersebut bukan tanpa alasan. Bola udang kini menjadi salah satu potensi lokal yang tengah dikembangkan masyarakat setempat.
Para nelayan di kampung ini memiliki harapan yang sama. Mereka ingin anak-anaknya mempunyai masa depan dan penghidupan yang lebih baik.
Harapan itulah yang kemudian ditangkap oleh Bunda Tri atau Tri Eko Sulistiyowati, pengelola sekaligus sosok yang mendirikan TBM Avicenna Berkah.
Bagi Bunda Tri, literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat harus mampu membuka wawasan, meningkatkan keterampilan, dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dari pemikiran tersebut, TBM Avicenna Berkah kemudian berkembang menjadi lebih dari sekadar pojok baca.
Literasi yang Menghasilkan
Kiprah Bunda Tri dalam mengembangkan TBM Avicenna Berkah perlahan menarik perhatian berbagai pihak.
Kalangan perguruan tinggi mulai ikut terlibat dan memberikan pendampingan. Salah satu hasil kolaborasi tersebut adalah pengembangan kudapan lokal berbahan dasar udang yang kemudian dikenal sebagai bola udang.
Dengan bantuan dari mahasiswa dan akademisi, termasuk dari PPNS dan ITS serta dukungan mahasiswa Unair, produk yang sebelumnya hanya menjadi makanan lokal tersebut mulai dikembangkan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Udang diolah dan digiling, kemudian dibentuk menjadi produk siap konsumsi. Tidak berhenti sampai di situ, bola udang tersebut juga dikembangkan dalam bentuk frozen food sehingga memiliki daya simpan lebih lama dan dapat dipasarkan secara lebih luas.
Bahkan, produk tersebut mulai diarahkan untuk dipasarkan melalui e-commerce.
Bagi masyarakat nelayan, pengembangan produk ini bukan sekadar inovasi kuliner.
Ada persoalan ekonomi yang hendak dijawab.
Kehidupan nelayan memiliki pola tersendiri. Mereka bisa menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk melaut dan satu minggu berada di daratan.
Masa ketika tidak melaut tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha pengolahan hasil laut.
“Rute nelayan seminggu melaut, seminggu libur. Olahan bola udang ini bisa menjadi tumpuan ekonomi bagi nelayan. Udang kemudian digiling, terus di-frozen dan dijual online,” kata Bunda Tri.
Menurutnya, usaha tersebut diharapkan dapat membantu para nelayan memiliki sumber penghasilan tambahan.
“Sehingga para nelayan tidak perlu hutang sana-sini sebelum melaut,” lanjutnya.
Bunda Tri juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang telah membantu masyarakat mengembangkan potensi lokal tersebut.
“Semua ini berkat rekan-rekan mahasiswa ITS dan Unair yang sangat saya banggakan,” ujarnya.
Gema Literasi Pesisir 2026
Cerita tentang perubahan tersebut kemudian dibawa dalam kegiatan Gema Literasi Pesisir: Membangun Kampung Bola Udang, Kampung Literasi Pesisir, yang digelar di Kampung Sukolilo, Surabaya, pada Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperlihatkan bahwa gerakan literasi dapat tumbuh dari masyarakat pesisir dan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan warga.
TBM Avicenna Berkah tidak hanya mengajak masyarakat membaca, tetapi juga mendorong warga mengenali potensi yang dimiliki lingkungannya.
Dari potensi hasil laut, masyarakat diajak belajar mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi. Dari proses pengolahan, muncul kebutuhan untuk belajar tentang pengemasan, pemasaran, hingga pemanfaatan platform digital.
Dengan demikian, literasi berkembang menjadi sebuah ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan ekonomi masyarakat.
Bunda Tri menyampaikan, TBM Avicenna Berkah juga mendapat perhatian dan pemantauan dari Balai Bahasa yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.
Selain itu, terdapat dukungan dan perhatian dari Dinas Perpustakaan serta BKPRMI Jawa Timur.
Kolaborasi Jadi Kunci
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, S.S., M.Hum., dalam sambutannya memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Gema Literasi Pesisir.
Menurut Retno, kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian dan kolaborasi berbagai pihak dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat.
Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, pegiat literasi, serta masyarakat untuk menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting dalam mengembangkan Kampung Literasi Pesisir agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Retno juga menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya memberikan dukungan kepada komunitas-komunitas literasi melalui berbagai program, salah satunya Bantuan Pemerintah Komunitas Literasi (Banpem Komlit).
BBP Jatim, lanjut Retno, juga terbuka untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung penguatan literasi masyarakat.
Kolaborasi dapat diwujudkan melalui penguatan bahan bacaan, pengembangan kegiatan kebahasaan dan kesastraan, peningkatan kapasitas pegiat literasi, serta berbagai program yang mendorong masyarakat semakin aktif berliterasi.
Dari Kampung untuk Kampung
Sementara itu, Ketua Forum TBM Jawa Timur, Jauharul Abidin, S.Pd.I, menyampaikan bahwa Gema Literasi Pesisir diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan seremonial.
Menurutnya, kegiatan tersebut harus menjadi awal dari gerakan bersama yang terus tumbuh.
Potensi yang dimiliki masyarakat pesisir dapat diberdayakan untuk membangun masyarakat yang semakin literat, berdaya, sekaligus mampu mengembangkan lingkungannya sendiri.
Gema Literasi Pesisir turut dihadiri sejumlah tamu undangan, di antaranya Anggota DPRD Kota Surabaya Ais Syafiah Asfar, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya Yusuf Masruh, Camat Bulak Hudaya, Lurah Sukolilo Rukayah, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas literasi dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan gerakan literasi.
TBM Bukan Sekadar Buku
Apa yang dilakukan TBM Avicenna Berkah memberikan pelajaran menarik tentang bagaimana sebuah gerakan literasi dapat tumbuh dari lingkungan sederhana.
Di tengah kampung nelayan yang padat, literasi tidak hanya diterjemahkan sebagai kegiatan membaca buku.
Literasi menjadi pintu masuk untuk membuka wawasan masyarakat, mengembangkan keterampilan, mengolah potensi lokal, menciptakan produk, memanfaatkan teknologi digital, sekaligus membuka peluang ekonomi.
Dari sebuah kampung nelayan, lahirlah gagasan untuk mengembangkan bola udang.
Dari hasil laut, muncul produk frozen.
Dari pendampingan mahasiswa, masyarakat mendapatkan pengetahuan baru.
Dan dari sebuah TBM, perlahan tumbuh harapan baru bagi masyarakat.
Inilah wajah TBM masa kini.
Bukan gudang buku usang.
Bukan pula tempat yang hanya didatangi anak-anak.
TBM dapat menjadi ruang tumbuh bagi seluruh masyarakat.
Sebab ketika literasi dipadukan dengan kreativitas, kolaborasi dan potensi lokal, sebuah kampung tidak hanya menjadi lebih pintar membaca, tetapi juga bisa menjadi lebih berdaya dan mandiri secara ekonomi.
Dan di Kampung Bola Udang Sukolilo, cerita itu sedang dimulai.

No comments:
Post a Comment