TERUNGKAP! Makam Abdul Wahab Saleh, Fotografer Perobekan Bendera Hotel Yamato Akhirnya Ditemukan Dalam Kondisi Memprihatinkan
Kabar Surabaya - Nama Abdul Wahab Saleh mungkin tidak seterkenal Bung Tomo atau Gubernur Suryo. Namun, tanpa kamera dan keberaniannya, sejumlah momen penting dalam sejarah perjuangan rakyat Surabaya mungkin tidak akan bisa disaksikan oleh generasi sekarang.
Abdul Wahab Saleh merupakan fotografer yang mengabadikan berbagai peristiwa perjuangan di Surabaya pada masa revolusi kemerdekaan. Salah satu karya paling terkenalnya adalah foto perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit, pada 19 September 1945.
Kini, setelah puluhan tahun berlalu, keberadaan makam sang fotografer akhirnya berhasil ditemukan.
Penelusuran Jejak Sang Fotografer
Selama ini, informasi mengenai kehidupan Abdul Wahab Saleh setelah sakit hingga meninggal dunia tidak banyak diketahui. Begitu pula dengan lokasi makamnya.
Berbagai literatur yang mengulas sosoknya memang cukup banyak menceritakan kiprahnya sebagai fotografer perjuangan. Namun, hampir tidak ada informasi yang secara jelas menyebut di mana Abdul Wahab Saleh dimakamkan.
Mencoba menelusuri jejak terakhir sang fotografer.
Penelusuran tersebut akhirnya menemukan titik terang setelah mendapatkan informasi dari Shohibudin, Pegiat Informasi Masyarakat (KIM) Kelurahan Nyamplungan. Shohibudin mengetahui secara persis lokasi makam Abdul Wahab Saleh.
Pada Sabtu (22 Agustus 2026), Shohibudin mengajak Kabar Surabaya berziarah sekaligus melihat langsung makam fotografer yang mengabadikan salah satu peristiwa paling ikonik dalam sejarah perjuangan Surabaya tersebut.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Makam Abdul Wahab Saleh ternyata berada di Makam Rangkah, Surabaya, yang selama ini dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Lokasinya berada di sisi kiri kompleks Makam Rangkah. Makam tersebut juga bisa diakses melalui gang di Jalan Kenjeran 113A Belakang.
Akses menuju lokasi cukup tersembunyi. Peziarah harus melewati gang sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Setelah masuk lebih dalam, terlihat sejumlah makam yang berada dalam satu area berpagar semen berwarna hijau.
Di sanalah makam Abdul Wahab Saleh berada.
Makamnya merupakan bagian dari cluster makam keluarga dan hingga kini masih dijaga oleh warga setempat.
Sosok di Balik Foto Perobekan Bendera
Abdul Wahab Saleh lahir di Surabaya pada 23 April 1923. Ia berasal dari keluarga santri di kawasan Ampel.
Sejak muda, Abdul Wahab Saleh gemar membaca dan bercita-cita menjadi jurnalis. Ia belajar fotografi secara otodidak hingga akhirnya diterima sebagai juru foto di kantor berita Domei. Di tempat tersebut, ia menjadi rekan kerja Sutomo atau Bung Tomo.
Setelah Indonesia merdeka, Saleh bergabung dengan Kantor Berita Indonesia (KBI) yang kemudian menjadi bagian dari Antara. Dari sinilah kiprahnya sebagai pewarta foto semakin dikenal.
Pada 19 September 1945, ketika situasi Surabaya memanas akibat berkibarnya bendera Belanda di Hotel Yamato, Saleh mendengar keributan dari kantornya yang tidak jauh dari lokasi.
/div>
Dari tempat tersebut, Saleh mengabadikan aksi para pemuda Surabaya yang menaiki Hotel Yamato dan merobek bagian biru bendera Belanda hingga tersisa warna merah dan putih.
Foto itu kemudian menjadi salah satu dokumentasi visual paling penting dari perjuangan rakyat Surabaya.
Selain peristiwa tersebut, Abdul Wahab Saleh juga mengabadikan Bung Tomo saat berpidato membakar semangat arek-arek Suroboyo menjelang Pertempuran 10 November 1945.
Beliau kemudian meliput berbagai peristiwa gerilya, perjuangan para pejuang serta proses diplomasi selama perang kemerdekaan.
Pada 1946, Saleh dipercaya menjadi kepala bagian foto Antara dan bergabung dalam korps Wartawan Istimewa. Ia juga ikut meliput Perundingan Linggarjati serta berbagai peristiwa perjuangan di sejumlah daerah.
Menghabiskan Masa Tua dalam Kesulitan
Di balik jasanya mengabadikan sejarah, kehidupan Abdul Wahab Saleh justru berakhir dalam kondisi yang sulit.
Setelah tidak lagi aktif sebagai wartawan, ia menjalankan usaha studio foto dan cuci cetak. Kondisi ekonomi yang semakin berat membuat kehidupannya tidak mudah.
Abdul Wahab Saleh tidak berkeluarga dan memilih tetap tinggal di Surabaya. Ketika sakit, beliau bahkan harus menumpang di rumah keluarga adiknya. Abdul Wahab Saleh akhirnya meninggal dunia di Surabaya pada 28 April 1982.
Masalah ekonomi juga disebut menjadi alasan Saleh menjual hak cipta sejumlah foto hasil jepretannya kepada kantor berita foto IPPHOS. Akibatnya, banyak foto bersejarah yang ia abadikan kemudian dikenal sebagai arsip IPPHOS tanpa mencantumkan nama Abdul Wahab Saleh.
Kondisi Makam Memprihatinkan, Keluarga Berharap Ada Perhatian
Ironisnya, puluhan tahun setelah wafat, kondisi makam Abdul Wahab Saleh juga tidak begitu terawat. Bahkan, penanda berupa nama juga sudah tidak terlihat lagi karena dimakan usia.
Ketika Kabar Surabaya melihat langsung lokasi makam, sejumlah bagian dinding makam terlihat pecah dan rusak akibat terdesak akar pohon. Penanda berbentuk bambu runcing yang terbuat dari besi juga terlihat patah dan berkarat. Pihak keluarga berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi makam tersebut.
Harapan itu bukan tanpa alasan.
Abdul Wahab Saleh bukan sekadar seorang fotografer. Ia adalah Arek Suroboyo yang merekam keberanian rakyat Surabaya ketika mempertahankan kemerdekaan.
Melalui kameranya, dunia dapat melihat bagaimana para pemuda Surabaya berani menentang kembalinya Belanda. Foto-fotonya kemudian menjadi bagian penting dalam dokumentasi sejarah perjuangan Indonesia. Bahkan sosoknya selalu diperankan saat Pemerintah Kota Surabaya menggelar teatrikal "Perobekan Bendera" yang setiap tahunnya selalu diperingati.
Kini, keberadaan makam Abdul Wahab Saleh akhirnya diketahui.
Di sebuah sudut sederhana di Makam Rangkah, sang fotografer yang pernah berdiri di balik kamera saat sejarah besar Surabaya berlangsung, kini beristirahat.
Makamnya mungkin sederhana dan namanya tidak selalu disebut dalam buku sejarah. Namun, foto-foto yang ditinggalkannya membuat keberanian arek-arek Suroboyo tetap hidup dan dapat disaksikan oleh generasi demi generasi.
Menemukan makam Abdul Wahab Saleh bukan sekadar menemukan lokasi tempat ia dimakamkan. Ini juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap foto sejarah, ada sosok yang berani berada di tengah situasi berbahaya untuk merekamnya.
Dan sosok itu adalah Abdul Wahab Saleh, Arek Suroboyo yang mengabadikan sejarah melalui kameranya. (Yanuar)
Sumber tulisan : Referensi dari berbagai media onlone. Pegiat KIM Nyamplungan, Adi Pramua (kerabat Abdul Wahab Saleh)

No comments:
Post a Comment