Peluang Lebaran 2026 Serentak Menguat, Hilal Diprediksi Sudah Mencapai 3 Derajat - Kabar Surabaya

Terbaru

Tuesday, March 17, 2026

Peluang Lebaran 2026 Serentak Menguat, Hilal Diprediksi Sudah Mencapai 3 Derajat

Peluang Lebaran 2026 Serentak Menguat, Hilal Diprediksi Sudah Mencapai 3 Derajat


Kabar Surabaya - Menjelang penghujung bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, perhatian masyarakat Indonesia mulai tertuju pada penentuan 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri 2026. Tahun ini, peluang umat Islam di Indonesia merayakan Lebaran secara bersamaan dinilai cukup besar.


Analisis dari Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama menunjukkan adanya kemungkinan keseragaman penetapan Idul Fitri antara pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.



Secara teknis, peluang Lebaran serentak tersebut dipengaruhi posisi hilal pada 19 Maret 2026 yang diperkirakan sudah cukup tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.


Berdasarkan perhitungan hisab, di beberapa daerah di wilayah barat Indonesia seperti Medan, Aceh, Padang, dan Jambi, ketinggian hilal diprediksi telah mencapai sekitar 3 derajat. Angka ini secara historis sering menjadi batas minimal dalam penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia.


Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa umat Muslim di Tanah Air dapat merayakan Idul Fitri secara bersamaan tahun ini.


Tim Ahli BHR Kementerian Agama Tuban, Kasdikin, menyebutkan bahwa jika melihat tren posisi hilal di wilayah barat Indonesia, peluang Lebaran dirayakan pada hari yang sama cukup terbuka.

“Jika melihat itu tentunya Lebarannya bisa bareng,” ujar Kasdikin.


Namun demikian, kemungkinan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kriteria yang digunakan pemerintah dalam menentukan awal bulan Hijriah, yakni standar Kriteria MABIMS.


Dalam kesepakatan terbaru MABIMS, bulan baru dinyatakan masuk apabila ketinggian hilal minimal mencapai 3 derajat dan elongasi—atau jarak sudut antara bulan dan matahari—telah mencapai 6,4 derajat.


Di sinilah muncul titik krusial dalam analisis tersebut. Meskipun ketinggian hilal di beberapa wilayah diperkirakan sudah mencapai 3 derajat, nilai elongasinya diprediksi masih belum memenuhi batas minimal yang ditetapkan.


Kasdikin menjelaskan bahwa di wilayah Medan misalnya, elongasi bulan diperkirakan hanya berada di kisaran 5 derajat.

“Karena meski ketinggian hilal 3 derajat, elongasinya belum sampai 6 derajat. Seperti di Medan elongasi hanya sekitar 5 derajat,” jelasnya.


Situasi ini berpotensi menimbulkan dinamika dalam penetapan awal Syawal oleh pemerintah. Apabila pemerintah tetap berpegang penuh pada kriteria MABIMS, maka kemungkinan perbedaan hari Lebaran dengan Muhammadiyah bisa saja terjadi.


Sebelumnya, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.


Namun jika pemerintah mempertimbangkan ketinggian hilal sebagai faktor utama, maka peluang Idul Fitri dirayakan serentak pada tanggal tersebut semakin terbuka.


Sementara itu, untuk wilayah Jawa Timur, khususnya Tuban, perhitungan menunjukkan bahwa ketinggian hilal diperkirakan belum mencapai 3 derajat saat proses rukyatul hilal dilakukan.


Hal ini membuat para perukyat di lapangan harus bekerja lebih cermat untuk memastikan apakah hilal dapat terlihat secara visual atau tidak.


Kepastian terlihat atau tidaknya hilal nantinya akan dilaporkan ke Jakarta dan menjadi bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Penentuan 1 Syawal 1447 H yang dijadwalkan pada 19 Maret 2026.


Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menunggu keputusan resmi tersebut sebelum menentukan rencana mudik maupun persiapan hari raya.

“Kita tunggu saja nanti hasil sidang isbat pada 19 Maret,” ujar Kasdikin.


Dinamika penentuan awal Syawal tahun ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga persatuan umat di tengah perbedaan metode penentuan kalender Hijriah.


No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad