Rekor Muri 50 Ribu Penari Remo Buat Wali Murid Mengeluh - Kabar Surabaya

Terbaru

Wednesday, December 14, 2022

Rekor Muri 50 Ribu Penari Remo Buat Wali Murid Mengeluh

Rekor Muri 50Ribu Penari Remo Buat Wali Murid Kerepotan


Kabar Surabaya - Tari Remo adalah adalah tarian yang berasal dari Jawa Timur, tepatnya berasal dari daerah Jombang. Tari Remo sendiri merupakan tarian yang digunakan untuk penyambutan tamu, atau dikenal sebagai Tarian Selamat Datang. Tari Remo ini kemudian menjadi lekat dengan Kota Surabaya sejak era Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Saat itu wanita yang saat ini menjabat sebagai Menteri Sosial ini selalu mempertunjukkan Tari Remo dalam setiap kegiatan Pemerintah Kota Surabaya.

 


Ketertarikan Pemkot Surabaya dengan tari Remo ini rupanya juga diwarisi oleh Walikota saat ini, yaitu Eri Cahyadi. Pada minggu nanti orang nomor satu di Kota Pahlawan tersebut akan membuat acara yang cukup megah, kolosal dan ditargetkan untuk memecahkan Rekor MURI. Acara tersebut adalah Menari Remo Massal yang akan diikuti oleh 50.000 pelajar.

 

Nantinya, mereka akan menari serempak secara massal di 9 lokasi bersejarah yang ada di Kota Pahlawan. Lokasi tersebut antara lain adalah Jembatan Suroboyo, Taman Bungkul, Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, Jalan Tunjungan, Jembatan Sawunggaling, Halaman Balai Kota, Taman Apsari, Alun-Alun Surabaya, Taman 10 November dan halaman sekolah sasing-masing. Kegiatan ini akan dilakukan serempak pada Hari Minggu (18/12/2022) tepat pada pukul 06.00wib.   


Namun, menjelang acara tersebut dilaksanakan, banyak orang tua murid yang mengeluh. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan bahwa acara tersebut diselenggarakan sangat mendadak, sehingga cukup kerepotan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bahkan para orang tua murid ini menumpahkan keluh kesahnya di kolom komentar di laman media sosial milik Pemkot Surabaya dan Dinas Pendidikan Kota Surabaya.


Beberapa orang tua murid mengannggap bahwa Pemkot Surabaya membebani para pelajar dan orang tua dengan membuat mereka menari namun tanpa dibekali persiapan apapun. Bahkan orang tua murid masih dibebani untuk mencari kostum dan biaya akomodasi ke lokasi acara.

 

    
Hal yang paling banyak dikeluhkan adalah mencari perlengkapan kostum untuk menari. Seperti halnya selendang merah, penutup kepala, dan Goseng (alat gemerincing yang dipakai dikaki dan tangan). Para orang tua murid mengaku telah mencari ke seluruh pasar, namun banyak penjual yang kehabisan. Kalaupun ada, harganya sudah naik berkali-kali lipat. 


Saat ini harga selendang merah dipasaran sudah mencapai Rp 80.000. Sedangkan untuk Gosengnya mencapai harga Rp 70.000. Itupun sudah sangat langka. Sebagian orang tua murid juga berinisiatif untuk menyewa kostum, namuan hasilnya sama saja, banyak persewaan kostum yang kehabisan barang, alias sudah Full Booked.

 


Menanggapi keluhan para orang trua murid ini, akhirnya Dinas Pendidikan Kota Surabaya mengeluarkan Surat Edaran yang ditujukan kepada kepala sekolah SD dan SMP se-Kota Surabaya. Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa kegiatan tari remo massal tidak bersifat wajib bagi seluruh pelajar. Seragam tari bisa menggunakan celana hitam dan atasan putih. Sedangkan untuk pelajar menggunakan pakaian olah raga sekolah masing-masing.

 

Untuk udeng atau ikatan kepala bisa menggunakan hasduk merah putih. Kemudian selendang tidak harus berwarna merah, namun bisa menyesuaikan dengan warna selendang yang sudah dimiliki siswa. Penari juga tidak diwajibkan untuk memakai riasan wajah. Mengenai Goseng, Pemkot Surabaya juga tidak mewajibkan hal tersebut, jadi para pelajar bisa tetap menari meskipun tanpa gemerincing kaki dan tangan. (yyan)


 

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad