- Kabar Surabaya

Breaking

Thursday, March 14, 2019

Keberadaan Perahu Tambang Yang Semakin Tersisih

Kabar Surabaya - Transportasi adalah suatu alat yang di ciptakan oleh manusia untuk memudahkan mereka dalam melakukan uiatu aktivitas guna berpindah tempat dari lokasi satu ke lokasi yang lain. Transportasi juga berkembang sesuai dengan jamannya. Bila kita tengok ke belakang, dulu manusia masih bisa menggunakan kuda, lalu terciptalah sebuah sepeda. Kemudian trasnportasi mulai berkembang dengan menggunakan mesin seperti mobil dan lain sebagainya.



Di Kota Surabaya sendiri sebenarnya mempunyai beragam jenis transportasi yang cukup menarik untuk di cermati. Mulai dari penggunaan Perahu, Dokar/Andong, Trem, Bemo Roda 3 hingga berkembang seperti saat ini. Rupanya jenis transportasi ini juga bisa punah seiring berjalannya waktu. Salah satu transportasi yang kondisinya hampir punah juga adalah Perahu Tambang.

Keberadaan Perahu Tambang ini masih bisa kita lihat pada beberapa sungai di Kota Surabaya ini. Salah satu lokasi Perahu Tambang yang admin kunjungi kali ini berada di Sungai Kalimas yang menghubungkan Jalan Ngagel dan Jalan Dinoyo. Posisinya persis di sebelah utara dari Jembatan Ujung Galuh.



Ketika admin sampai di lokasi Perahu Tambang, tampak pria tua yang sedang memperbaiki dermaga. Dengan sekuat tenaga dia tampak menancapkan paku di atas sebuah kayu yang terlihat seperti kayu bekas. Ketika admin mencoba menanyakan apakah bisa minta tolong di seberangkan, dengan sigap pria tua itu memanggil rekannya yang ada di seberang sungai. Memang saat itu Perahu Tambangnya sedang terparkir di seberang sungai yang ada di kawasan Dinoyo.

Setelah mendapatkan kode, tampak Perahu Tambang melaju untuk menjemput saya. Pria tua yang kemudian saya tau nauanya Pak Mister ini lalu menyuruh saya untuk naik ke atas perahunya. Kapal Perahu Tambang yang di kelola Pak Mister ini bentuknya memang sebuah kapal, dengan geladak yang cukup lebar dan rata. Bedanya dengan perahu pada umumnya adalah tidak ada cekungan di dalamnya. karena memang lantai dari Kapal Perahu Tambang ini di gunakan untuk meletakkan motor ataupun sepeda angin para penumpangnya.


Kendali utama dari Kapal Perahu Tambang ini 3 utas tali tambang yang terbentang membelah sungai Kalimas ini. Ujung-ujung tali tambang ini di ikatkan pada pohon besar yang ada di kedua tepi sungai. Ada 2 macam bahan yang di gunakan sebagai tali tambang ini, yaitu dari bahan logam dan bahan tambang yang cukup kuat. Dengan menarik tali tambang inilah, yang akhirnya membuat perahu bisa melaju keseberang. Dari raut muka dan getaran tali tambang, jelas sekali kalau membutuhkan tenaga yang besar untuk menariknya. Padahal kedua tangan pak Mister ini sudah tampak semakin menua.

Menurut Pak Mister, dulunya di sepanjang sungai ini ada 5 buah Perahu Tambang yang beroperasi dengan aktif. Bahkan, saking ramainya, Perahu Tambang miliknya sampai mempunyai loket khusus untuk tempat pembayarannya. Tiap harinya terdapat puluhan motor yang memanfaatkan jasa Perahu Tambang ini. Pada masa ke-emasannya itu, semua Perahu Tambang itu sampai harus buka selama 24 jam non stop.


Namun itu hanyalah kenangan manis dari bisnis Perahu Tambang ini. Saat ini kondisinya sudah berbalik 180 derajat. Sepinya peminat Perahu Tambang menyebabkan banyak bisnis Perahu Tambang yang gulung tikar. Dari 5 unit Perahu Tambang yang ada di Kalimas, praktis hanya milik Pak Mister yang masih beroperasi.

Saat ini Pak Mister mengaku hanya mendapatkan sekitar 30ribu hingga 50ribu perhari. Padahal sebagian dari hasil tersebut masih harus di setorkan kepada juragan pemilik Perahu Tambangnya. "Gimana lagi mas, kondisinya sekarang seperti ini" keluhnya. Untuk sekali menyeberangkan perahu Pak Mister hanya menarik ongkos 2ribu rupiah per-oran


Mengenai sepinya bisnis Perahu Tambang miliknya, Pak mIster mempunyai analisanya tersendiri. Perahu Tambang ini mulai sepi ketika Ojek Online sudah mulai banyak. Maraknya Ojek Online ini membuat keberadaan Angkutan Kota (Angkot) semakin tersisih. Padahal sebagian besar penumpang perahu ini adalah penumpang bemo juga yang biasanya melintas di Jalan Ngagel. "Semua penumpang saya, kebanyakan beralih menggunakan Ojek Online Mas, jatuhnya bisa lebih murah" jelas Pak Mister.

Memang jika di amati, sepanjang Pak Mister bercerita mengenai sejarah Perahu Tambangnya, hanya ada 2 kali Angkutan Kota berwarna kuning yang melintas. Sepanjang kami berbicara juga hanya ada satu orang penumpang yang menggunakan jasanya. "Ini langganan saya mas, orangnya mau berangkat kerja"jelasnya. Tampak pak Mister dan penumpang yang menggunakan jasanya ini terlihat cukup akrab, tampak sekali kalau sudah saling kenal lama.

Dari sini nampak jelas bahwa seleksi alam juga berlaku untuk transportasi. Saat ini masyarakat tentunya lebih memilih transportasi yang murah, aman, nyaman dan praktis. Apakah Perahu Tambang ini masih akan bertahan 5 tahun mendatang ?. Saya sendiri sangat ragu untuk menjawab "Iya", mengingat usia Pam Mister yang sudah tergolong manula dan tidak ada lagi tenaga muda yang terlihat membantunya. 


Meskipun sederhana, paling tidak riwayat Perahu Tambang ini akan menjadi kenangan manis bagi sejarah Kota Surabaya dan para penumpang yang pernah menggunakan jasanya. (Yanuar Yudha) 

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad