Surat Terbuka "Ujang" Untuk Om Menteri Nadiem Makarim - Kabar Surabaya

Breaking

Tuesday, July 21, 2020

Surat Terbuka "Ujang" Untuk Om Menteri Nadiem Makarim


Kabar Surabaya - Pada Bulan Juli seperti ini anak-anak usia sekolah sudah mulai memasuki tahun ajaran baru. Semua persiapan mulai buku paket, buku tulis, peralatan sekolah, seragam baru, tas baru bahkan sepatu baru-pun telah disiapkan. Namun sayangnya persiapan ini seakan tidak ada gunanya, sebab mereka masih diharuskan belajar secara Virtual atau daring dari rumah masing-masing.


Konsep belajar dirumah secara Virtual ini rupanya tidak semudah yang dibayangkan semula. Hal ini dikarenakan para orang tua masih harus membelikan perangkat Gadget seperti Handphone atau laptop bagi anaknya. Belum lagi ditambah kuota internet yang harga juga tidak murah. Hal ini tentu saja menambah pengeluaran ekstra bagi orang tua murid. Padahal untuk biaya SPP masih tetap berlaku normal seperti proses pembelajaran seperti halnya pembelajaran di sekolah (tatap muka)

Kondisi ini masih ditambah lagi dengan keadaan geografis Indonesia yang semua wilayahnya belum tercover semua oleh sinyal internet. Masih banyak kawasan Indonesia yang sinyal HP dan Internetnya masih belum stabil bahkan belum tercover. Jadi secannggih apapun gadgetnya, tentu masih tidak bisa melaksanakan proses pembelajaran secara daring ini.

Hal inilah yang akhirnya banyak masyarakat mengirimkan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan Indonesia Nadiem Makarim. Salah satunya adalah surat dari @lidya lestari. Surat tersebut bertuliskan sebagai berikut :

"SURAT DARI UJANG UNTUK PAK MENTERI PENDIDIKAN"

Beginilah hari-hari Ujang,
Hanya bisa termangu di beranda depan rumah abah, manakala teman-temanku belajar di depan layar telepon selular atau komputer yang harganya " Wah "


Aku mana bisa
Abah hanya buruh tani yang upahnya tak berapa, kadang dapat uang, kadang tidak
Itupun jika hasil panennya melimpah
Jika tidak maka abah hanya bisa mengiba pada tuan pemilik tanah

Emak juga sama, kadang emak terpaksa menjadi buruh serabutan untuk membantu abah
Sedangkan adekku yang kecil, emak titipkan pada teteh di rumah yang juga sama-sama gak bisa ikut belajar daring di rumah


Maafkan Ujang ya, Pak Guru
Ujang gak bisa ikut belajar seperti teman-teman Ujang

Di depan rumah, Ujang hanya bisa menatap luasnya kebon kosong yang digarap abah
Ujang membayangkan sedang berada di depan layar kaca, bertatap muka dengan teman-teman Ujang dan melihat Bapak dan Ibu Guru yang Ujang sudah hampir lupa lagi dengan wajahnya


Pak Guru jangan marah sama Emak dan Abah
Bukannya mereka tidak memperhatikan keperluan sekolah Ujang
Tapi memang emak dan abah tak punya cukup uang untuk beli alat-alat canggih seperti yang dimiliki teman-teman Ujang

Maafkan Ujang, Pak Guru
Bukannya Ujang gak mau sekolah

Wassalamualaikum, wr,wb
" Ujang "

Di Kota Surabaya sendiri yang notabenenya sudah masuk dalam kota besar, masih banyak masyarakatnya yang ternyata tidak mampu untuk membeli kuota internet. Hal ini kemudian mendorong salah satu pemilik Warung Kopi (Warkop) di Kota Pahlawan ini yang menyediakan Wifi Gratis bagi siswa yang mau belajar di warkop tersebut.


Lantas bagaimana dengan mereka yang tinggal di gunung atau di pelosok daerah yang tidaj terjangkau oleh sinyal internet...?. Haruskan mereka putus sekolah hanya karena proses belajar secara daring ini..? 

Kondisi seperti ini hendaknya bisa menjadi perhatian Kementrian dan Dinas Pendidikan, agar mencari cara yang efektif. SEhingga proses belajat ini tidak memberatkan orang tua dan siswa namun masih tetap aman di tengah Pandemi COVID-19 seperti saat ini. (yyan)



No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad