Ketika Momok Zonasi Melanda - Kabar Surabaya

News

Tuesday, June 18, 2019

Ketika Momok Zonasi Melanda

Ketika Momok Zonasi Melanda

Kabar Surabaya - Saat ini banyak suasana hati orang tua murid yang rasanya "gak karuan". Bagaimana tidak, pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 ini mereka seakan diberikan cobaan. Cobaan ini akibat dari pemberlakuan Sistim Zonasi yang di tetapkan oleh Kementrian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud). 



Sistim Zonasi adalah sebuah sistim yang saat ini di pakai sebagai acuan untuk penerimaan siswa baru, baik tingkat SMP dan SMA/SMK. Pada sistim Zonasi SMA ini, jarak rumah ke sekolah adalah penentu utama bagi calon siswa untuk di terima di sekolah negeri. Jadi semakin dekat rumah calon siswa ke sekolah, maka semakin besar kemungkinan mereka di terima di sekolah negeri. 

Dengan sistim Zonasi ini, maka nilai Ujian nasional (UN) sudah tidak menentukan lagi di terima-tidaknya calon siswa ke sekolah negeri. Semuanya kembali bergantung kepada Zona (jarak). 



Pihak Kemendikbud sendiri mempunyai alasan mengapa Sistim Zonasi harus di berlakukan pada tahun 2019 ini, yaitu:
  1. Menghapuskan sistim kompetisi siswa yang hanya berkutas pada nilai akademik saja
  2. Menghilangkan ketidak-adilan bagi siswa yang memiliki nilai ujian rendah
  3. Menghilangkan ketidak-adilan bagi siswa yang berasal dari keluarga yang tidak mampu
  4. Biasanya demi sekolah favorit maka siswa harus melakukan perjalanan jauh dan ada beberapa yang harus tinggal terpisah dengan orang tuanya.
  5. Intervensi Pemerintah Pusat/daerah hanya kepada sekolah favorit saja.
  6. Kondisi kelas yang kemampuan muridnya sama akan membuat para pengajar kurang memiliki motivasi untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
  7. Menghilangkan pungutan liar dan praktek jual-beli kursi.
Namun sayangnya banyak dari orang tua siswa serta calon siwa yang kecewa dengan pelaksanaan Sistim Zonasi ini. Bukan hanya kecewa, bahkan banyak dari mereka mereka yang sempat marah kepada pihak sekolah. Tidak sedikit pula calon siswa yang kecewa bahkan menangis karena tidak di terima di sekolah negeri impiannya. Meskipun nilai UN mereka cukup tinggi.



Yang cukup unik, ternyata banyak sekolah-sekolah negeri favorit yang dulunya berisikan anak-anak dengan nilai UN tinggi sekarang banyak di masuki oleh calon siswa yang nilai UN-nya rendah. Ironisnya banyak calon siswa yang nilai UN-nya tinggi malah tidak bisa masuk ke sekolah negeri dan harus ber-sekolah di sekolah swasta.

Dengan Sistim Zonasi ini terjadi pemerataan kualitas murid baik di sekolah negeri maupun ke sekolah swasta. Sayangnya, banyak sekali keluarga calon siswa yang tidak mampu menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta di karenakan biaya pendidikannya yang cukup tinggi. Sedangkan biaya pendidikan untuk sekolah negeri pada tahun ini Gratis.



Sistim Zonasi ini juga mempunyai kelemahan dalam pemetaan jumlah sekolah SMA/SMK negeri. Karena tidak semua Kecamatan/kelurahan di Jawa Timur ini mempunyai sekolah negeri. Di Kota besar seperti Surabaya saja, keberadaan sekolah SMA/SMK negeri masih belum merata hingga ke tiap kecamatan. Bayangkan apabila terdapat calon siswa yang tinggal jauh di pelosok dan untuk masuk ke sekolah negeri masih kalah dalam hal "zona", sedangkan untuk masuk ke sekolah swasta terbentur masalah biaya.

Banyak sekali pihak yang saat ini mengkritik tentang sistim Zonasi ini. Seperti salah seorang dosen UNIVERSITAS GADJAH MADA (UGM) yang mengirimkan surat terbuka untuk meng-kritik keras tentang pelaksanaan Sistim Zonasi kepada Presiden Joko Widodo.



Di media sosial-pun saat ini di penuhi oleh berbagai keluhan orang tua muris yang anaknya gagal untuk masuk ke sekolah negeri pilihannya. Beberapa diantaranya adalah :

" Percuma ikut Bimbel mahal-mahal, ternyata nilau UN ga di pakai "

" Tragis, masuk sekolah hanya di dasarkan pada jarak, trus apa gunanya belajar susah-susah selama 3 tahun.."

" Setelah ini Bimbel bakalan sepi dan harga rumah di sekitar sekolah bakal meroket naik"

"Sistim Zonasi benar-benar tidak menghargai jerih payah anak saya yang siang-malam belajar demi sekolah negeri favotritnya" 

" Saya jadi bngung, mengenai biaya anak saya yang harus masuk ke sekolah swasta, padahal nilai UN-nya tinggi"

"Uang pangkal sekolah swasta 10juta - 15 juta, darimana uang itu saya dapatkan...? "


Sistim Zonasi ini sesunguhnya adalah sistim yang baik. Artinya kualitas pendidikan akan merata. Namun yang perlu di perhitungkan lagi adalah keberadaan sekolah negeri yang harus merata juga. Karena setiap siswa BERHAK UNTUK MENDAPATKAN PENDIDIKAN YANG MURAH DAN BERMUTU dengan cara yang Fair. (Yanuar Yudha)

No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad